Slide

Contact Admin

Minggu, 16 Oktober 2011

Hutang



BAB II
LANDASAN TEORI
2.1       Hutang
2.1.1    Pengertian Hutang  
Hutang adalah sesuatu yang dipinjam. Seseorang atau badan usaha yang meminjam disebut debitur. Entitas yang memberikan utang disebut kreditur. (http://id.wikipedia.org/wiki/Hutang)



Hutang adalah memberikan sesuatu yang menjadi hak milik pemberi pinjaman kepada peminjam dengan pengembalian di kemudian hari sesuai perjanjian dengan jumlah yang sama. (http://organisasi.org/hutang_piutang_menurut_ajaran_islam_definisi_pengertian_hukum_rukun_manfaat_dari_hutang_piutang_pendidikan_agama_islam)

Hutang adalah kewajiban perusahaan yang timbul karena tindakan atau transaksi–transaksi di masa lampau untuk memperoleh aktiva atau jasa,
yang pelunasannya baru akan dilakukan di masa yang akan datang, baik dengan penyerahan uamg tunai, aktiva-aktiva tertentu lainnya, jasa maupun
dengan menciptakan hutang baru. Hutang dapat menimbulkan kewajiban keuangan ataupun kewajiban pelaksanaan. Sebagai contoh, kewajiban keuangan misalnya hutang usaha, hutang pajak, hutang deviden, hutang bunga dan sebagainya, sedangkan kewajiban pelaksanaan,  misalnya  sewa yang diterima di muka, beban yang diterima di muka, uang garansi pembelian dari para pembeli.
Liabilitas (bahasa Inggris: liability) adalah utang yang harus dilunasi atau pelayanan yang harus dilakukan pada masa datang pada pihak lain. Liabilitas adalah kebalikan dari aset yang merupakan sesuatu yang dimiliki. Contoh liabilitas adalah uang yang dipinjam dari pihak lain, giro atau cek yang belum dibayarkan, dan pajak penjualan yang belum dibayarkan ke negara. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kewajiban)
Istilah liabilitas diadopsi dari bahasa Inggris liability untuk menggantikan istilah sebelumnya, kewajiban. Kini kata kewajiban digunakan untuk merujuk pada istilah bahasa Inggris obligation.
Liabilitas dimasukkan dalam neraca dengan saldo normal kredit, dan biasanya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
  1. Liabilitas jangka pendek - liabilitas yang dapat diharapkan untuk dilunasi dalam jangka pendek (satu tahun atau kurang). Biasanya terdiri dari utang pembayaran (hutang dagang, gaji, pajak, dan sebagainya), pendapatan ditangguhkan, bagian dari utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam tahun berjalan, obligasi jangka pendek (misalnya dari pembelian peralatan), dan lain-lain.
  2. Liabilitas jangka panjang - liabilitas yang penyelesaiannya melebihi satu periode akuntansi (lebih dari satu tahun). Biasanya terdiri dari utang jangka panjang, obligasi pensiun, dan lain-lain.
Metode pencatatan utang
Ada dua metode pencatatan utang, yaitu account payable procedure dan voucher payable procedure.
1.      Dalam account payable procedure, catatan utang adalah berupa kartu utang yang diselenggarakan untuk setiap kreditur, yang memperlihatkan catatan mengenai nomor faktur dari pemasok, jumlah yang terutang, jumlah pembayaran, dan saldo utang.
2.      Dalam voucher payable procedure, tidak menggunakan kartu utang. Tapi menggunakan arsip voucher yang disimpan dalam arsip menurut abjad atau menurut tanggal jatuh temponya. Arsip bukti kas keluar ini berfungsi sebagai catatan utang.

2.1.2        Jenis – jenis hutang
Struktur hutang menjelaskan suatu komposisi jangka waktu hutang yang dipergunakan oleh perusahaan, baik jangka pendek, menengah, ataupun jangka panjang, dan dipengaruhi oleh besar kecilnya hutang tersebut

Macam-macam hutang antara lain:
  1. Hutang Jangka Pendek
  2. Hutang Jangka Panjang

Hutang Jangka Pendek
Hutang yang harus dilunasi dalam jangka waktu pendek, paling lama satu tahun sesudah tanggal neraca, atau harus dilunasi dalam jangka waktu satu siklus operasi normal perusahaan yang bersangkutan (tergantung mana yang lebih panjang).

Sumber pendanaan Hutang jangka pendek dikelompokkan menjadi:
  1. Variable Keputusan Pasif, jumlah sumber dana tersebut akan tergantung pada keputusan aspek yang lainnya sesuai dengan aktivitas perusahaan. Misalnya: pembelian bahan baku secara kredit, rekening-rekening accruals.
  2. Variable Keputusan Aktif, perusahaan harus secara aktif mencari dan mendapatkan sumber dana dan dalam memperolehnya harus mempunyai perjanjian-perjanjian formal kepada Kreditor. Misalnya: hutang Bank.

Ada beberapa jenis hutang jangka pendek yaitu :
1.      Hutang Dagang
Hutang dagang atau account payable adalah jumlah uang yang masih harus dibayarkan kepada pemasok, karena perusahaan melakukan pembelian barang atau jasa. Salah satu contoh hutang dagang adalah pembelian barang dagangan atau peralatan kantor secara kredit. Hutang ini tidak memerlukan
surat atau perjanjian tertulis sehingga pelaksanaannya didasarkan atas rasa saling percaya.
2.      Hutang wesel atau Promes
Hutang wesel atau promes adalah kewajiban yang dibuktikan dengan janji tertulis tanpa syarat untuk membayar sejumlah uang tertentu pada tanggal
yang telah ditentukan di kemudian hari. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa hutang ini bersifat lebih formal dibandingkan dengan hutang dagang biasa. Apabila wesel dibuat dengan jangka waktu kurang dari satu tahun maka wesel tersebut digolongkan sebagai hutang lancar. Proses timbulnya hutang wesel sama seperti hutang dagang, yaitu dari kegiatan pembelian barang atau jasa secara kredit. Dapat juga terjadi pada awalnya merupakan hutang dagang biasa kemudian dengan tujuan untuk lebih memberikan kepastian bagi kreditur maka hutang dagang tersebut berubah menjadi hutang wesel.
3.      Beban-beban yang masih harus dibayar (accrual liabilities) Beban-beban yang harus dibayar adalah kewajiban terhadap beban-
beban yang telah terjadi, tapi belum dibayar karena belum jatuh tempo pada akhir periode yang bersangkutan. Yang termasuk dalam kelompok ini  adalah hutang gaji dan upah, hutang komisi, dan hutang bunga. Dalam contoh di atas telah diberikan contoh mengenai bunga yang masih harus dibayar atau
hutang bunga. 
Gaji dan upah yang dibayarkan kepada karyawan dan buruh perusahaan pada umumnya telah dipotong dengan bermacam–macam potongan. Misalnya :
Ø  Pajak Pendapatan.
Ø  Pensiun.
Ø  Asuransi hari tua.
Ø  Tabungan wajib.
Ø  Iuran wajib. 
Selama dana–dana tersebut belum digunakan harus nampak sebagai pos hutang di dalam neraca perusahaan.



4.      Hutang Deviden
Hutang deviden adalah deviden yang dapat dibayar sebagaimana
diumumkan oleh dewan komisaris perusahaan tapi pada akhir periode belum dibayar dan dicatat sebagai hutang deviden. Perseroan Terbatas yang sudah mengumumkan adanya pembagian deviden kepada para pemegang saham sudah harus mengakui adanya hutang pada saat pengumuman.

5.      Pendapatan yang diterima di muka
Kadang-kadang ada beberapa jenis pendapatan yang dapat diterima lebih dahulu seperti uang langganan majalah atau sewa. Pos ini dinyatakan sebagai
hutang, karena menggambarkan suatu klaim terhadap perusahaan. Pada umumnya kewajiban ini diselesaikan dengan menyerahkan barang atau jasa dalam periode akuntansi berikutnya. Jika terdapat penerimaan di muka
melampaui satu periode akuntansi berikutnya harus dilaporkan dalam neraca sebagai kelompok tersendiri (terpisah dari hutang jangka pendek). 

6.         Bagian dari Hutang Jangka Panjang Yang Jatuh Tempo
Terdapat beberapa hutang jangka panjang dan wesel bayar jangka
panjang yang harus dibayar secara angsuran. Bagian dari hutang jangka panjang yang jatuh tempo atau harus dibayar dalam waktu 12 bulan, harus
digolongkan sebagai hutang  jangka pendek. Jumlah ini tidak termasuk jumlah beban bunga yang harus dibayar karena beban bunga ini akan dibukukan dalam akun hutang bunga.

7.      Penyajian Hutang Lancar dalam Neraca
Menurut PSAK No.1 suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban
jangka pendek, jika: (a) diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal operasi perusahaan; atau (b) jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca. Semua kewajiban di lluar itu harusdiklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang.
Hutang lancar adalah kelompok hutang yang harus dilaporkan paling atas dalam neraca. Dalam kelompok ini, setiap jenis hutang dicantumkansecara terpisah dan informasi mengenai jangka waktu utang wesel serta
informasi penting lainnya harus diungkapkan dalam catatan atas laporankeuangan. Cara penyajian yang umum dalam praktik adalah denganmencantumkan hutang wesel paling atas kemudian hutang dagang, danberikutnya utang lancar lainnya.

Hutang Jangka Panjang
Pada umumnya hutang jangka panjang mempunyai waktu sekitar lebih dari 5 tahun, bahkan ada yang beranggapan bahwa hutang ini mempunyai jangka waktu 10 tahun.
Hutang jangka panjang mempunyai kaitan dengan struktur modal. Apabila perusahaan meminjam dana dan mengembalikannya dalam jangka waktu yang relatif lama maka pinjaman/ hutang tersebut akan menjadi bagian dari struktur modal perusahaan.

Perbandingan antara hutang jangka panjang yang bersifat pinjaman dan modal sendiri biasanya didefinisikan sebagai modal.
Hutang jangka panjang juga terbentuk akibat diperpanjangnya pinjaman/ hutang jangka pendek maupun hutang jangka menengah, hal itu dilihat atas dasar waktu pembayaran hutang tersebut.
Jenis-jenis hutang jangka panjang antara lain:
  1. Obligasi
  2. Hipotik
  3. Kredit Investasi
Pertimbangan Dalam Keputusan Hutang
Semakin lama pinjaman/hutang maka semakin aman perusahaan karena semakin kecil menanggung resiko kebangkrutan, akan tetapi biaya bunganya semakin besar.
Semakin besar kemungkinan dalam memperpanjang jangka waktu hutang, maka semakin besar biaya perpanjangan yang harus dikeluarkan dan kemungkinan akan menanggung resiko kebangkrutan.
(http://kumpulan-artikel-ekonomi.blogspot.com/2009/08/struktur-hutang.html)

Timbulnya Hutang Jangka Panjang
Hutang jangka panjang umumnya timbul apabila perusahaan membutuhkan tambahan dana. Apabila dana ini akan digunakan untuk investasi dalam aktiva tetap yang akan memberikan hasil dalam jangka panjang seperti misalnya untuk pembuatan gedung atau pembelian mesinmesin, maka dana yang dibutuhkan sebaiknya diperoleh dari hutang jangka panjang atau modal sendiri.

Jenis-jenis Hutang Jangka Panjang
Di dalam praktik kita mempunyai berbagai jenis hutang jangka
panjang, tetapi pada umumnya hutang jangka panjang dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu:
1.      Hutang hipotik adalah pinjaman yang harus dijamin dengan harta tidak bergerak. Di dalam perjanjian hutang disebutkan kekayaan peminjam yang dijadikan jaminan misalnya berupa tanah atas gedung. Jika
peminjam tidak melunasi pinjaman pada waktunya, maka pemberi pinjaman dapat menjual  jaminan untuk diperhitungkan dengan pinjaman yang bersangkutan.
2.      Hutang Obligasi ialah hutang yang diperoleh melalui penjualan surat-surat obligasi. Pembeli obligasi disebut pemegang obligasi yang bertindak
sebagai pemberi pinjaman. Dalam surat obligasi dan ketentuan-ketentuan
lain sesuai dengan jenis obligasi yang bersangkutan.

Hipotik
Pinjaman hipotik biasanya diambil jika dana yang diperlukan dapat dipinjam dari satu sumber, misalnya dengan mengambil peinjaman dari suatu bank tertentu. Kredit-kredit bank dengan jaminan harta tak bergerak adalah contoh hipotik yang banyak dijumpai dalam praktik. Mengingat pinjaman hipotik hanya diambil dari satu sumber maka akuntansi untuk hipotik relatif sederhana.
Obligasi
pinjaman obligasi  mengandung berbagai masalah dan variasi yang berpengaruh pula pada akuntnasinya. Pembahasan dalam buku ini akan dititik beratkan pada akuntansi untuk pinjaman obligasi.
Jenis-jenis Obligasi Dalam masyarakat berbagai macam obligasi yang diperlukan untuk pembelanjaan perusahaan. Jenis yang paling banyak dikenal ialah:
Ø  Obligasi terjamin, adalah  obligasi terjamin yang masih dibedakan menurut jenis kekayaan yang dijadikan jaminan seperti misalnya :
i)        Dijamin Harta Tak Bergerak Tanah Atau Gedung
ii)      Dijamin Harta Bergerak Seperti Mesin, Perlengkapan Dan Kekayaan Lainnya.
Apabila obligasi terjamin tidak dapat dilunasi pada tanggal jatuh temponya maka kekayaan yang menjadi jaminan harus dijual untuk
melunasi obligasi tersebut.
Ø  Obligasi tak terjamin, obligasi semacam ini tidak dijamin dengan harta kekayaan tertentu sehingga laku tidaknya obligasi ini di pasaran surat berharga sangat tergantung pada kepercayaan  masyarakat terhadap perusahaan yang mengeluarkannya.
Obligasi terjamin kadang-kadang dibedakan lagi menjadi beberapa tingkatan seperti obligasi pertama, kedua, atau bahkan ketiga. Hal ini berarti
bahwa jika obligasitidak dapat dilunasi pada saat jatuh temponya  maka kekayaan yang menjadi jaminan harus dijual atau dilelang. Hasil penjua1lan kekayaan tersebut pertama-tama akan dipakai melunasi obligasi-obligasi
terjamin pertama, jika masih ada sisanya barulah digunakan untuk melunasi obligasi terjamin berikutnya.

Pencatatan Pengeluaran Obligasi
Untuk dapat memahami akuntansi obligasi perlu dipahami dahulu
beberapa istilah penting yang berhubungan dengan obligasi.
Ø  Nilai nominal obligasi yaitu jumlah yang akan dibayar pada tanggal jatuh tempo obligasi.
Ø  Tanggal jatuh tempo yaitu tanggal di mana obligasi harus dilunasi.
Ø  Bunga obligasi yaitu bunga pertahun yang diberikan kepada pemegang obligasi. Bunga obligasi dinyatakan dalam persentase tertentu.
Ø  Tanggal bunga  yaitu tanggal di mana bunga obligasi akan dibayar.
Kadang-kadang bunga obligsi dibayar tiap setengah tahunan sehingga pada tiap tahun terdapat dua tanggal bunga. Misalnya tanggal bunga
1/4  dan 1/10 berarti bahwa pada tanggal 1 April dibayar bunga untuk periode 6 bulan dan pada tanggal 1 Oktober dibayar bunga untuk periode 6 bulan lagi. Bunga obligasi biasanya dibayar dibelakang.

Ø  Nilai nominal obligasi, tanggal jatuh tempo, tingkat bunga dan tanggal bunga tercantum dalam perjanjian obligasi dan juga dicetak dengan jelas pada tiap-tiap lembar sertifikat obligasi.

Pencatatan  Hutang obligasi Oleh karena dalam hal hutang obligasi, perusahaan sebagai pihak
debitur yang aktif mengeluarkan surat–surat tanda utang itu, maka perlu diadakan pembahasan yang sedikit mendalam tentang pembukuannya. 

Pencatatan selama peredaran Hutang obligasi Bilamana perusahaan berhasil menjual sejumlah surat obligasi yang
dikeluarkannya, berarti perusahaan berhasil memperoleh sejumlah uatng jangka panjang yang nantinya setelah tiba saat jatuh temponya akan dilunasi
sebesar nilai nominalnya. Oleh sebab itu hasil penjualan obligasi dibukukan pula sebesar nilai nominalnya ke dalam akun hutang obligasi. Sedangkan selisih antara harga penjualan (harga kurs) dengan harga nominal tersebut,
dibukukan tersendiri ke akun Diskonto obligasi, jika harga kurs dibawah nialai nominalnya dan dibukukan ke dalam akun Premi obligasi jika harga kurs di atas nilai nominalnya.  

Pengeluaran Obligasi Dengan Premi Dan Diskonto Apabila tingkat bunga di pasaran lebih rendah dari tingkat bunga
obligasi, maka pembeli (investor) akan bersedia membayar dengan harga harga lebih tinggi darui nilai nominal obligasi. Dengan perkataan lain investor bersedia membayar dengan premi. Premi akan mengurangi beban bunga. Sebaliknya diskonto akan menambah  beban bunga.

Pengeluaran Obligasi Di Antara Tanggal Bunga Obligasi kadang-kadang dikeluarkan tidak bertepatan dengan tanggal
bunga tetapi pada suatu tanggal tertentu diantara dua tanggal bunga. Mengingat bahwa bunga obligasi selalu dibayar untuk periode waktu tetap, maka pembeli obligasi dikenakan bunga berjalan yaitu bunga antara tanggal pembayaran bunga yang terakhir sampai dengan tanggal pengeluaran
(penjualan) obligasi.


AMORTISASI PREMI DAN DISKONTO
Keuntungan ataupun kerugian sebagai akibat adanya premi atau diskonto dari penjualan obligasi bukanlah merupakan laba atau rugi pada periode di mana penjualan itu terjadi, melinkan merupakan keuntungan atau
kerugian sepanjang umur dari Hutang obligasi yang bersangkutan. Oleh karena itu setiap akhir periode (tahun) perlu disusun jurnal pembebanan keuntungan atau kerugian tersebut ke akun “Beban bunga”, melalui jurnal penyesuaian.

Follower